PERMEN PPKS INKONSISTEN DENGAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

29/11/2021 05:21
Array
banner-single

PERMEN PPKS INKONSISTEN DENGAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

Oleh : Yani Suryani


   Beberapa waktu PKS mengkritik peraturan antikekerasan seksual di kampus yang dibuat oleh Mendikbud Ristek Nadiem Makarim. Aturan yang dimaksud adalah Permendikbud Ristek Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di lingkungan Perguruan Tinggi selanjutnya disebut Permen PPKS yang telah diteken Menteri Nadiem pada tanggal 31 Agustus 2021. Kritik dan ketidaksetujuannya PKS terdapat pada aspek “ concent” atau “konsensual” (persetujuan ) yang menjadi syarat aktivitas seksual yang terdapat pada Permen tersebut (detiknews. 6/11/2021).

     Sebagai sebuah Kementerian yang mengurusi urusan pendidikan di negara ini, seharusnya harus jeli dalam mengeluarkan aturan atau regulasi yang bertujuan untuk mengatur dan membuat kondisi akan lebih baik. Bukankah pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

         Bahkan tujuan Pendidikan Nasional yang termaktub dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menuliskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu , cakap, kjreatif, mandir, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

     Perguruan Tinggi dalam Hal ini adalah kampus yang menjadi tempat belajar para mahasiswa sudah seharusnya juga berporos pada tujuan pendidikan yang sudah digariskan.
Beriman dan bertakwa seperti apa yang tertulis merupakan kondisi yang amat sangat tinggi derajatnya . seseorang yang beriman dan bertakwa akan menjadi insan yang serius dalam menapaki kehidupan karena akan memahami bahwa tujuan hidup ini bukan hanya berorientasi di dunia saja, melainkan ada alam yang kita semua manusia akan bertanggung jawab terhadap sekecil apapun yang kita lakukan di dunia. Insan yang beriman akan mengimani bahwa Al quran adalah kitab suci bagi kaum muslim dan mengimani apa yang tertulis di dalamnya.

   Pertanggungjawaban manusia terhadap apa pun yang dilakukannya ketika di dunia ini Seperti dijelaskan dalam surat Al Zalzalah ayat 7 dan 8 yang artinya “ Maka barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah niscaya dia akan melihat (balasan) nya.

         Peraturan yang dikeluarkankan oleh Pak Menteri seharusnya di kaji terlebih dahulu agar tidak terjadi penafsiran yang menimbulkan ambiguitas pada kalangan aktivitas pendidikan. Karena mulianya tujuan pendidikan yang telah dijelaskan.

          Berkaca pada sejarah yang telah tertulis dan terjadi bagaimana Rosulullah telah mampu mendidik jiwa ksatria dan pemimpin tangguh yang luar biasa. Lihat saja bagaimana Umar bin Khattab yang telah berubah dalam kehidupannya setelah masuk Islam. Siapa yang tidak kenal seorang Umar bin Khattab yang telah melakukan sesuatu hal yang tak bisa dibayangkan oleh seorang anak yang akhirnya nyawanya berakhir karena ayahnya merasa malu saat memliki anak perempuan. Namun lewat pendidikan yang telah diberikan Rosul, Umar menjadi sosok yang luar biasa. Menjadi pemimpin yang tegas dan disegani karena kehebatannya. Dan menjadi orang yang tetap menyayangi akan kaum lemah saat beliau ,menjadi pemimpin kala itu.

            Sudah seharusnya para pemimpin di negeri ini membaca dan mempelajarai sejarah bahkan harus mengambil sejara. Lewat sejarah itu justru akan menimbulkan kebaikan. Jangan sampai kita alergi terhadap sejarah atau bahkan kita malah membenci sejarah.

            Jika pendidikan yang terjadi saat ini mengedepankan tujuan pendidikan yang sudah ditetapkan, setidaknya harapan tinggi seorang pendidik adalah, manakala melihat anak didiknya beriman dan bertakwa sehingga marwah dari tujuan pendidikan itu akan terjaga.

Rekomendasi Anda

BANNER-ATAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini Lainnya